Kaum Muslim Seluruh Dunia Bersatu Berhari Raya, Namun Indonesia Malah Berbeda

Posted: September 1, 2011 in INFO MUSLIM
Tags: ,

 

 

Syabab.Com– Sungguh menyedihkan! Ketika seluruh negeri kaum Muslim berhari raya Idul Fitri 1432 H pada hari Selasa, 30/08/2011, setelah terbukti terlihat hilal di beberapa tempat, pemerintah Indonesia malah memutuskan tanggal 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Tanpa Khilafah, kembali umat yang satu ini berhari raya Id pada hari yang berbeda.

Pada hari Senin sore, seluruh kaum Muslim mencari bulan baru untuk menentukan apakah hari Selasa masuk tanggal 1 Syawal atau menggenapkan shoum Ramadhan. Di Indonesia sendiri, telah terlihat hilal oleh tim rukyat di Cakung, Jakarta, namun ditolak di dalam sidang itsbat.

Akhirnya sidah itsbat memutuskan hari Idul Fitri 1432 H pada hari Rabu. Sementara kaum Muslim lainnya berhari raya pada hari Selasa.

KH Maulana Kamal Yusuf,  salah satu ulama besar di Jakarta yang juga menjabat Rois Suriah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, mengatakan, hari ini, Selasa (30/8), sudah masuk 1 Syawal 1432 H. Bagi umat muslim yang masih melaksanakan ibadah puasa dianjurkan untuk segera berbuka puasa.

Hasil rukyat di Cakung sempat dilaporkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Ahmad Jauhari, di depan Sidang Isbat. Namun, kata Kiai Kamal, pemerintah menganggap hilal tidak mungkin dirukyat, karena posisinya di bawah ufuk. “Tapi kita yang merukyat, melihatnya di atas ufuk,” ungkap Kamal.

Yang anehnya lagi, pemantauan hilal ini hanya dicukupkan di wilayah Indonesia. Pihak berwenang tidak mau menunggu atau bekerjasama dengan pencarian hilal di negeri kaum Muslim lainnya, sekalipun dengan negeri tetangga Malaysia.

Arab Saudi dan Malaysia menetapkan 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada Selasa 30 Agustus 2011.Otoritas keagamaan Saudi menyatakan hilal telah terlihat sehinggan bulan Ramadan berakhir Senin.

Selain Saudi, sejumlah negara juga secara resmi menetapkan 1 syawal 1432 hijriah jatuh pada hari ini. Negara itu antara lain Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Malaysia, dan Singapura.

Hizbut Tahrir Indonesia juga menetapkan hari Idul Fitri 1432 jatuh pada hari Selasa setelah terbukti hilal global syari terlihat di beberapa tempat.

“Setelah memonitor hilal bulan Syawal pada malam hari ini (malam Selasa), maka terbukti terlihat hilal dengan ru’yat syar’i, di mana syabab yang terpercaya di negeri al-Haramain mengabarkan kepada kami bahwa mereka telah keluar, seperti halnya setiap tahun, ke kawasan sebelah utara kota Riyadh dan mereka bisa melihat hilal Syawal.”

Hilal juga telah disaksikan dan terbukti terlihat dengan ru’yat syar’i di dua daerah, Syaqra’ dan Sudair, dengan kesaksian sejumlah saksi, “Atas dasar itu maka Selasa (30 Agustus 2011) adalah 1 Syawal, sekaligus hari Idul Fithri yang penuh dengan keberkahan”.

Ego ikatan nasionalisme warisan penjajah ditenggarai menjadi penyebab utama perpecahan Idul Fitri diantara kaum Muslim tersebut.

Umat Islam di Riau misalnya, tidak berpuasa bersama dengan umat Islam di Malaysia padahal perbedaan waktu antara kedua kota itu tidak sampai satu jam.

Sementara pada saat yang sama, umat Islam di Aceh bisa berpuasa bersama dengan saudaranya yang tinggal jauh di Papua. Tentu saja ini sesuatu yang amat janggal.

Penentuan awal dan akhir Ramadhan berkait erat dengan peredaran dan perputaran bumi, bulan, dan matahari. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan batas-batas negara yang bisa berubah-ubah.

“Perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan di negeri-negeri muslim hanya merupakan salah satu potret dari keadaan umat Islam, yang kendati satu ummat, tapi terpecah belah setelah runtuhnya Daulah Khilafah pada 1924 lalu,” kata Muhammad Ismail Yusanto juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia dalam pernyataan persnya

“Karena itu, solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini adalah dengan mengembalikan keberadaan Khilafah, mengangkat seorang khalifah untuk menyatukan negeri-negeri muslim dan menerapkan syariah secara kaffah termasuk dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan sehingga umat bisa berpuasa dan berhari raya secara bersama.”

Persoalan perbedaan Idul Fitri ini memang bukanlah masalah yang sepele, melainkan ini adalah masalah halal dan haram. Ini sangat terkait dengan keharaman shoum di hari raya, juga pembayaran zakat yang harus ditunaikan sebelum hari raya.

Penetapannya juga jelas dengan pengamatan hilal bagi seluruh kaum Muslim di seluruh dunia, bukan dengan hisab dan juga keputusan nasionalisme.

Hari raya Idul Fitri 1432 H telah berlalu dalam kondisi umat berpecah belah terkait pelaksanaannya. Ini semestinya menjadi pelajaran agar hari raya tahun berikutnya tidak berbeda lagi.

“Perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan yang hampir selalu terjadi semestinya menyadarkan kita semua tentang betapa pentingnya Khilafah Islam sebagai wadah pemersatu umat sehingga peristiwa yang memalukan ini tidak terjadi lagi di masa mendatang. Oleh karena itu, perjuangan umat bagi tegaknya kembali Khilafah adalah mutlak adanya,” tegas Ismail Yusanto.

Umat benar-benar membutuhkan insitusi pemersatu kaum Muslim, pelaksana syariah. Institusi itu adalah Khilafah Islamiyyah yang akan menyiarkan secara langsung ke seluruh penjuru dunia pemantauan hilal di berbagai negeri.

Di saat itu juga, Khalifan akan menetapkan serta berpidato kepada seluruh umat Islam untuk menyambut hari raya layaknya siaran langsung sepak bola yang disaksikan oleh kaum Muslim dari berbagai negeri. Insya Allah, hal itu benar-benar akan terjadi, semakin dekat. [m/rep/htipress/syabab.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s