Cantik-cantik Kok Kriminil

Posted: October 8, 2011 in INFO BERITA
Tags:
by info@mediaumat.com (MUAdmin)

Ketika kecantikan menjadi bisa beracun memikat para korban.

 

Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan: jika si cantik berbuat salah/jahat, para pria bilang ‘nobody is perfect.’ Tapi kalau yang berbuat salah/jahat perempuan bertampang biasa, langsung dicap: pantes…tampangnya aja kriminil!

Ya, predikat cantik memang selalu menjadi daya pikat. Bahkan ketika sudah berbuat jahat pun ‘dibela’. Seperti yang marak terjadi belakangan ini. Dunia kriminal tak lagi identik dengan sosok pria berwajah sangar, tubuh bertato dan berperilaku kasar. Perempuan cantik, seksi, lemah lembut, kini turut menjadi pelaku tindak kejahatan.

Kita masih ingat, bagaimana hebohnya pemberitaan tentang ratu ekstasi Zarima Mirafsur. Meski waktu itu bukan termasuk artis top, kelakuan miringnya justru benar-benar bikin top. Ada pula model iklan Lidya Pratiwi yang divonis bersalah dalam kasus pembunuhan model Nael L Gonggom.

Lalu penipu ulung Sally Yustikawati yang juga bikin heboh di dunia maya sebelum akhirnya tertangkap. Terakhir, yang bikin gonjang-ganjing dunia perbankan, Malinda Dee. Sebelum mereka, ada sederet artis cantik yang tersandung kasus narkoba, seperti Ria Irawan, Sheila Marcia, Jennifer Dunn. Kecuali Ria Irawan yang dibebaskan, mereka menjadi penghibur di balik jeruji penjara yang umumnya dihuni para preman.

Duh, agaknya pameo yang mengatakan cantik di luar, belum tentu cantik di dalam, semakin mendapat pembenaran. Kasihan mereka yang benar-benar cantik luar-dalam, ikut kena getahnya. Seolah cantik itu memang menipu. Di balik penampilan yang luwes, lembut, gaul, trendy dan seksi, tersimpan racun mematikan.

Tuntutan Gaya Hidup

Di era liberalisasi saat ini, dimana kebebasan berekspresi dituhankan, kecantikan pun menjadi agama baru kaum perempuan. Mereka tidak akan percaya diri, minder dan bahkan merasa tak berguna jika bertampang standar saja. Maka, dipermaklah wajah dan tubuhnya agar molek layaknya boneka barbie.

Mengapa? Karena modal kecantikan itu sangat penting dalam pergaulan, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan jodoh, meraih kekayaan, mengejar cita-cita dan seterusnya. Itulah paradigma cantik yang menyihir jutaan wanita di seluruh dunia, hingga membelanjakan hampir sebagian besar isi dompetnya untuk predikat: cantik.

Tuntutan seperti itu memaksa mereka berputar otak, bagaimana mendapatkan uang dengan cara instan. Gaya hidup konsumtif, fashionable, dan hedonis memang tidak murah, apalagi gratis. Butuh dana besar untuk ke mal, salon, diskotek, kafe, pakai baju branded, liburan, dll.

Kecantikan pun menjadi modal utama untuk meraih tujuan. Entah dengan mengeksploitasinya sebagai komoditas, menjadikannya umpan untuk menjerat lelaki tajir hidung belang, mengelabuhi orang berkantong tebal dan seterusnya.

Ketika rupiah menghampiri dengan mudah, mereka menjadi keranjingan dan bahkan serakah. Tak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya. Boro-boro sempat mensyukuri, yang ada menggerutu karena merasa kekurangan.

Benar sekali nasihat agar kita melihat ke bawah, jangan melihat ke atas. Niscaya kita akan merasa bersyukur, karena masih banyak yang lebih susah dibanding kita. Entah, apa yang ada di benak kalangan perempuan molek itu, ketika dengan entengnya membuang ratusan ribu hingga jutaan rupiah di salon. Padahal, bisa jadi itu setara dengan separuh honor guru anak mereka, yang diperoleh dengan memeras keringat sebulan lamanya. Itulah ironi masyarakat liberal.

Bahkan, saking fenomenalnya penjahat cantik, di Budapest, Hongaria, digelar Kontes Miss Mafia. Syarat pesertanya: terdaftar dan terfoto di kantor polisi karena melakukan tindak kriminal, menyertakan pasal yang pernah dijeratkan kepada kontestan dan berapa lama menghabiskan waktu di bar. Hadiah yang ditawarkan: mobil dan apartemen. Terhimpunlah pencuri, mata-mata, anggota perampok bank, dan penipu. Astaghfirullah!

 

Perhiasan Terindah

Cantik itu relatif. Tak ada ukuran paten. Namun yang pasti, cantik itu anugerah. Dan semua perempuan cantik, karena pria tak memilikinya. Seharusnya semua perempuan menyadari dan mensyukurinya. Sayang, banyak yang terlena dan memanfaatkan kecantikan untuk mencapai tujuan materi semata.

Padahal, kecantikan dan materi bukan segalanya. Kecantikan itu fana, luntur dimakan usia. Sekeras apapun kita mempertahankan kekencangan kulit, tetap akan peot pada saatnya. Seberapa sering pun ke salon, kalau sudah waktunya keriput, ya tidak bisa ditolak. Sebanyak apapun produk kosmetik kita habiskan untuk memoles rambut, akhirnya uban nongol juga. Itu sudah sunatullah.

Karena itu, sangat rugi perempuan yang hidupnya dihabiskan di depan cermin untuk berdandan, ke salon untuk mempermak diri, serta membelanjakan sebagian besar harta untuk produk kosmetik. Bayangkan jika hal itu dialihkan untuk belanja kebutuhan anak, modal berbuat sosial, berdakwah dan bersedekah di jalan Allah SWT, niscaya akan menjadi investasi dunia akhirat.

Demikian pula dengan materi. Saat mati, materi meninggalkan kita. Bahkan bisa jadi fitnah jika diperebutkan ahli warisnya. Materi sesungguhnya ujian, apakah bisa memanfaatkannya untuk membelanjakan di jalan Allah. Kalau tidak, materi hanya akan menjadi pengganjal saat perhitungan amal. Terlebih jika diperoleh dengan cara haram, seperti menipu atau mengambil yang bukan haknya.

Kemuliaan di sisi Allah SWT bukan dipandang dari kecantikan. Bahkan itu tidak masuk kriteria sama sekali. Di yaumul hisab, seorang hamba tidak akan ditanya, mengapa kamu jelek, mengapa kamu jerawatan, atau mengapa kamu tidak suka berdandan.

Kemuliaan sejati seorang perempuan terletak pada amal kebaikannya. Ya, amal ibadah itu abadi, investasi dunia akhirat yang kelak menjadi bekal pertanggungjawaban di yaumul hisab. Perempuan yang smart, cantik dan mulia adalah yang menyadari  posisi dia sebagai hamba Allah. Ia akan menyibukkan diri untuk mentadaburi ayat Alquran dibanding ‘ayat-ayat’ kecantikan.

Perempuan cantik sejati, jika menyembunyikan kecantikannya itu hanya untuk mereka yang berhak. Tidak diumbar untuk siapa saja (tabaruj), apalagi jadi umpan menaklukkan pria hidung belang. Perempuan sejati yang cantik luar dalam, pandai bersyukur atas apa yang diterimanya. Sehingga, tak terlintas sedikitpun niat untuk operasi plastik, misalnya.

Ia menyadari betul, harga diri dan martabatnya bukan terletak pada penampilan, melainkan amal saleh dan ibadahnya. Sabda Rasulullah SAW: “Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah adalah wanita yang shalihah” (HR Muslim). Semoga kita menjadi perhiasan terindah. Amin.[]kholda naajiyah

sumber : http://mediaumat.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s